Posted by: mancesteranto | April 14, 2008

Apa Kabar Karang Mumus Ku

Air adalah sumber kehidupan, itulah kata- kata yang pas dan patut kita ucapkan. Karena tanpa air semua siklus kehidupan tidak akan berjalan dengan baik.

Tetapi apa jadinya apabila sumber daya air yang dikatakan sebagai sumber kehidupan mengalami kerusakan, baik pencemaran yang disebabkan oleh proses alami ataupun pencemaran yang terjadi karena ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.

Apakah anda kenal dengan salah satu sungai yang berada di Kotamadya Samarinda yang letaknya tidak jauh dengan Pasar Segiri dan tentu pula pemukiman penduduk? Ya. Sungai Karang Mumus begitulah orang Samarinda menyebut sungai ini. Mungkin nama sungai ini tidak begitu asing lagi ditelinga teman - teman dan warga Samarinda. Sungai yang seharusnya menjadi tempat tinggal para hewan air, kini mulai terusik oleh kegiatan- kegiatan manusia, baik itu untuk sarana MCK dan tragisnya lagi Sungai Karang Mumus dijadikan tempat pembuangan sampah alternatif. Sungai Karang Mumus ini adalah salah satu sungai yang telah menjadi contoh sungai yang boleh dikatakan tidak layak lagi untuk dikonsumsi airnya.

sungai karang mumus

Dengan warna air yang bisa berubah - rubah sesuai dengan musim, menandakan bahwa air yang berada disungai karang mumus sudah tercemar. Saya mendengar salah satu dosen saya mengatakan, “ untuk apa melakukan penelitian yang hanya membuang- buang biaya, kalau hanya untuk mengetahui apakah air itu tercemar atau tidak “. Secara gamblang dapat diartikan dengan hanya melihat warna yang aneh saja mungkin teman- teman sudah bisa mengambil pendapat dan dapat menilai apakah air itu tercemar atau tidak.

Pendangkalan dimana- mana, baik itu karena hutan yang sudah tidak bisa menahan air karena hutan yang berada dihulu sungai boleh dikatakan sudah gundul, sehingga terjadi erosi secara besar- besaran dan menyebabkan sedimentasi (pengendapan) di hilir sungai. Hal ini menyebabkan kerugian yang besar karena dengan terjadinya sedimentasi di muara- muara sungai, mengakibatkan kerusakan ekosistem sungai. Maupun karena volume sampah yang dibuang ke sungai tiap harinya yang teramat besar, akibat pemukiman warga yang berada tepat di bibir sungai. Selain itu pula terdapat sistem tata kota yang buruk di kota yang kita tinggali ini turut menyebabkan sulitnya alur air hujan untuk dapat langsung diserap ke dalam tanah. Dramatisnya lagi, Kota Samarinda apabila diguyur hujan beberapa menit, maka akan terjadi banjir, khususnya pemukiman- pemukiman yang terdapat disepanjang Sungai Karang Mumus. Sehingga dengan hal tersebut di atas wajarlah jika masalah banjir masih menjadi misteri klasik yang terus mengusik kenyamanan bagi warga kota TEPIAN ditengah berbagai macam penghargaan yang telah dikoleksi oleh pembesar kota ini akhir – akhir ini.

Tapi kita patut bersyukur dengan terjadi musibah banjir. PEMKOT Samarinda terketuk hatinya, untuk memperbaiki gorong- gorong, mengeruk lumpur yang berada di parit- parit, sehingga sistem drainase bisa berjalan dengan lancar.

Sebaiknya kita yang dipercaya oleh ALLAH sebagai khalifah atau sebagai pemimpin di muka bumi ini, menjaga dengan baik titipan yang ALLAH berikan kepada kita. Sesuai dengan firman Allah yang intinya yaitu barangsiapa yang berbuat kerusakan di muka bumi maka ia akan menanggung akibatnya.

Posted by: mancesteranto | Maret 24, 2008

Pesut Mahakam

SEKILAS TENTANG PESUT MAHAKAM

 

Tidak seperti mamalia air lain yakni lumba-lumba dan ikan paus yang hidup di laut, pesut (Orcaella brevirostris) hidup di sungai-sungai daerah tropis. Populasi satwa langka yang dilindungi Undang-Undang ini hanya terdapat pada tiga lokasi di dunia yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady.

Dahulu pesut pernah ditemukan di banyak muara-muara sungai di Kalimantan, tetapi sekarang pesut menjadi satwa langka. Kecuali di sungai Mahakam, di tempat ini habitat Pesut Mahakam dapat ditemukan ratusan kilometer dari lautan yakni di wilayah kecamatan Kota Bangun, kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Habitat hewan pemangsa ikan dan udang air tawar ini dapat dijumpai di perairan Sungai Mahakam, danau Jempang (15.000 Ha), danau Semayang (13.000 Ha) dan danau Melintang (11.000Ha).

Pesut mempunyai kepala berbentuk bulat (seperti umbi) dengan kedua matanya yang kecil (mungkin merupakan adaptasi terhadap air yang berlumpur). Tubuh Pesut berwarna abu-abu sampai wulung tua, lebih pucat dibagian bawah - tidak ada pola khas. Sirip punggung kecil dan membundar di belakang pertengahan punggung. Dahi tinggi dan membundar; tidak ada paruh. Sirip dada lebar membundar.

Pesut bergerak dalam kawanan kecil. Walaupun pandangannya tidak begitu tajam dan kenyataan bahwa pesut hidup dalam air yang mengandung lumpur, namun pesut merupakan ‘pakar’ dalam mendeteksi dan menghindari rintangan-rintangan. Barangkali mereka menggunakan ultrasonik untuk melakukan lokasi gema seperti yang dilakukan oleh kerabatnya di laut.

Populasi hewan ini terus menyusut akibat habitatnya terganggu, terutama makin sibuknya lalu-lintas perairan sungai Mahakam, serta tingginya tingkat erosi dan pendangkalan sungai akibat pengelolaan hutan di sekitarnya. Kelestarian Pesut Mahakam juga diperkirakan terancam akibat terbatasnya bahan makanan berupa udang dan ikan, karena harus bersaing dengan para nelayan di sepanjang Sungai Mahakam.

Kategori